Bank Dunia Klaim Perekonomian Indonesia 2020 Minus

Posted on

KINERJA pemulihan ekonomi Indonesia belum perlihatkan penguatan signifikan, apalagi condong melemah dari proyeksi sebelumnya. Dengan alasan itu Bank Dunia sudah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari minus 1,6% menjadi minus 2,2%. Hal itu tertuang didalam laporan Bank Dunia yang bertajuk Indonesia Economic Prospects (IEP) Desember 2020. Sejumlah instansi internasional lainnya termasuk memprediksi perekonomian Indonesia masih didalam teritori negatif selama th. ini. Di antaranya prediksi dari Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) yang menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada level minus 2,4% th. ini.

Walau demikian pemerintah masih menyimpan harapan sebaliknya. Setidaknya perihal itu tebersit dari pernyataan Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu berbalik arah dari negatif menjadi positif pada akhir th. ini. Optimisme mantan Menteri Perindustrian itu didasari sejumlah angka indikator ekonomi yang mulai membaik. Di antaranya pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga membaik dan melalui titik paling rendah bersama kontraksi lebih kecil minus 3,49% bil dibandingkan bersama triwulan ke dua yang minus 5,32%. Indikator lainnya, konsumsi pemerintah yang konsisten bertumbuh, begitu pula realisasi bantuan sosial (bansos) makin meningkat. Lalu sektor industri penopang mulai bergerak di sedang Covid-19.

Sementara itu Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi nasional berada pada level minus 1,7% sampai 0,6%. Sri Mulyani Indrawati mengibaratkan keadaan dunia usaha selagi ini sedang pingsan akibat tekanan yang benar-benar berat. Hal itu mampu dibaca dari sikap perbankan yang tidak mempunyai keberanian menyalurkan kredit. Sebaliknya pihak korporasi enggan menghendaki kredit di masa sulit ini. Seretnya penyaluran kredit perbankan jelas sebuah sinyal bahaya sebab kegiatan korporasi tentu tidak berjalan sebagaimana diharapkan. Tentu ini sebuah tugas berat bagi pemerintah bagaimana mengakibatkan dunia usaha siuman dari pingsan.

Sementara itu Bank Dunia memprediksi perekonomian nasional akan lagi membaik pada th. depan dan akan menguat secara perlahan pada 2022. Tahun depan diproyeksi pertumbuhan ekonomi mencapai kurang lebih 4,4%. Namun untuk mencapai pertumbuhan positif bersama syarat keadaan pandemi korona (Covid-19) sudah mampu diminimalkan melalui penyuntikan vaksin yang efisien dan aman. Sri Mulyani menghendaki dana pemulihan ekonomi nasional yang jumlahnya mencapai Rp 695,2 triliun mampu memutar roda perekonomian yang mampu mengakibatkan arah pertumbuhan ekonomi lebih baik dengan kata lain terlihat dari resesi ekonomi.

Terlepas dari proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional, sejumlah pekerjaan rumah berat lainnya tunggu aksi pemerintah sebagai dampak dari Covid-19. Salah satunya sebagaimana dibeberkan Bank Dunia didalam laporan IEP adalah persoalan pangan yang dinilai memadai krusial. Persoalan pangan bukan menyangkut ketersediaan, namun keterjangkauan untuk grup tertentu, yaitu penduduk miskin dan rentan miskin bersama kekuatan energi beli yang melorot untuk memperoleh bahan pangan.

Lalu apa solusi mengatasi persoalan keterjangkauan pangan untuk penduduk miskin atau kelas bawah? Bank Dunia menyodorkan tiga jalur keluar. Pertama, pendekatan ketahanan pangan perlu diperluas untuk menjawab keperluan dan mewujudkan visi ketahanan pangan komprehensif yang tertuang didalam Undang-Undang (UU) Pangan. Kedua, obyek dan instrumen kebijakan perlu disesuaikan dan cakupan kebijakan didefinisikan kembali. Ketiga, pengeluaran publik perlu dialokasikan lagi untuk memperoleh dampak yang lebih besar dan produktif. Selanjutnya diversifikasi bersama lakukan transisi dari fokus pada tanaman terpilih menjadi pertanian yang terdiversifikasi dan untung seluruh pihak. Menyangkut energi saing, Bank Dunia merekomendasikan untuk memelihara pasar domestik bersama pembatasan impor dan mengakses pasar ekspor lebih luas bagi produsen didalam negeri. Tugas yang sungguh berat.